PRAKTIK KESEHARIAN DAN PENAFSIRAN RUANG: PRODUKSI RUANG SOSIAL MIKRO PADA GANG PERMUKIMAN KOTA TUA AMPENAN

  • Liza Hani Saroya Wardi Program Arsitektur, Universitas Mataram

Keywords

Praktik Keseharian, Penafsiran Ruang, Ruang Sosial Mikro, Gang Permukiman, Henri Lefebvre, Paul Ricoeur

Abstract

Abstract: Gang di permukiman kota tua Ampenan khususnya di RT 3 Lingkungan Dende Seleh awalnya berfungsi sebagai jalur pergerakan, namun di kemudian hari gang menjadi ruang sosial yang diproduksi oleh penggunanya. Gang tidak saja sebagai ruang sirkulasi, tetapi juga sebagai ruang sosial yang dihidupi melalui praktik keseharian warga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami proses produksi dan penafsiran ruang sosial mikro dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, pengumpulan data melalui observasi, wawancara informal dan place-centered mapping (PCM) untuk mengidentifikasi pola aktivitas, ritme temporal, serta relasi sosial. Analisis data mengacu pada teori produksi ruang Henri Lefebvre dan Hermeneutika Paul Ricoeur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang sosial mikro diproduksi melalui repitisi praktik keseharian, ritme aktivitas serta negosiasi sosial antarwarga. Proses tersebut menghasilkan dua tipologi ruang, yaitu ruang sosial temporal - komunal yang bersifat ruang dinamis adaftif dan ruang sosial domestik – konsisten yang bersifat ruang stabil semi privat. Temuan ini menegaskan bahwa ruang bersifat dinamis, diproduksi sekaligus ditafsirkan dalam praktik keseharian masyarakat

References

[1] Dr. Natalie Collie, Gender and Urban Space, Gender Forum : An Internet Journal for Gender Studies, Vol. 42, No.1, 2013

[2] Henri Lefebvre, “the Production Space”, Oxford : Blackwell, 1991.

[3] Andarita Rolalisasi dan Dadoes Soemarwanto, “Gang sebagai Tempat Aktivitas di Permukiman Perkotaan REferensi Kampung di Kota Surabaya”, Jurnal Arsitektur NALARs, Vol. 19. No.1. Hal. 19-28, 2020.

[4] Poeti Nazura Gulfira Akbar dan Jurian Edelenbos, “Social Impacts of Pace-Making in Urban Informal Settlements : A case Study of Indonesian Kampungs”, MDPI : Sosial Science, Vol. 9, No.104, hal 1-30, 2020.

[5] Freta Oktarina, “ Shared Space and culture of Tolerance in Kampung Settlements in Jakarta”, Jurnal Sosioteknologi, Vol 17, No 3, hal : 416-423, 2018.

[6] Mona Anggiani, Rr. Diana Ayudya, Wibisono Bagus Nimpuno, “Spatial Dynamics of Social Interaction Space in Jakarta’s Urban Kampung, Jurnal Arsitektur dan Perencanaan, Vol. 8, No. 2, hal : 1-10, 2025

[7] Liza Hani Saroya Wardi, Muhammad Fadjri, “Unraveling The Space Of Sasak Women in the Nensek Tradition, Ruas : Review of Urbanism and Architectural Studies, Vol 23 No.1 hal : 138-150, 2025.

[8] Tika Ainunnisa Fitria, Mohd Hisyam Rasidi, Ismail Said, “The space Privatization : The Forming Process of Sosial Space in Kampung, Prawirotaman, Yogyakarta”, Geografia : Malaysian Jurnal of Society and Space, Vol 8, No. 3, hal : 251-263, 2022.

[9] Sander van Lanen and Erik Meij, “Producing Space through Social Work : Lefebvre’s Social Production of Space and the History of Social Work in The Netherlands, Routledge : European Journal OF Social Work, Vol 29, No. 1, hal :188-200, 2026.

[10] Nelly John Babere, “Social Production of Space : Lived Space Informal Livelihood Operators; the Case of Dares Salaam City Tanzania”, Curren Urban Studies Journal, Vol. 1 No. 3, hal : 286-299, 2015

[11] Stirena Rossy Tamariska, Agus S. Ekomadyo, “Place Making Ruang Interaksi Sosial Kampung Kota”, Jurnal Arsitektur dan Perkotaan “Koridor”, Vol. 08., No. 02, 2017

2026-06-07