ANALISIS KEBUTUHAN AIR IRIGASI PADA SISTEM IRIGASI LAHAN KERING DESA KUTA KECAMTAN LAMBITU KABUPATEN BIMA
Keywords:
Irigasi lahan kering, kebutuhan air irigasi, neraca air, evapotranspirasi tanaman, ketersediaan air, Desa Kuta, Lambitu, BimaAbstract
Sistem irigasi pada wilayah lahan kering menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan produksi pertanian, terutama di daerah yang memiliki keterbatasan sumber daya air. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan air irigasi pada Sistem Irigasi Lahan Kering di Desa Kuta, Kecamatan Lambitu, Kabupaten Bima, dengan mempertimbangkan kondisi eksisting jaringan, potensi sumber air, serta ketersediaan debit mata air setempat. Daerah penelitian memiliki luas lahan 59,08 hektare yang terletak pada kawasan perbukitan bertingkat dengan karakteristik lahan kering, sehingga pasokan air sangat dipengaruhi oleh musim dan kondisi hidrologi lokal. Sumber air yang berpotensi digunakan bagi irigasi berasal dari tiga mata air, yaitu Mata Air Kamonca, Uwa, dan Osahua. Berdasarkan hasil survei dan pengukuran lapangan, total potensi debit mata air mencapai 7,63 L/det, di mana Mata Air Uwa memiliki debit paling stabil sepanjang tahun. Namun, pemanfaatan ketiga mata air tersebut belum optimal karena elevasi mata air berada lebih rendah daripada area lahan kering, dan belum tersedia jaringan perpipaan serta fasilitas penampungan yang memadai. Selain itu, sekitar 50% debit mata air digunakan untuk kebutuhan domestik masyarakat, sehingga perlu dilakukan evaluasi alokasi dan efisiensi penggunaan air. Analisis kebutuhan air irigasi dilakukan menggunakan perhitungan evapotranspirasi tanaman, curah hujan efektif, kebutuhan air irigasi bersih (NFR), dan kebutuhan air irigasi kotor (IR) untuk pola tanam padi–palawija–palawija. Hasil analisis menunjukkan bahwa kebutuhan air untuk tanaman padi berkisar antara 4,602–5,741 L/det/ha, sedangkan kebutuhan air untuk palawija berkisar antara 0,557–0,613 L/det/ha sesuai waktu awal tanam. Perbandingan antara kebutuhan air dan ketersediaan debit menunjukkan bahwa potensi sumber air dapat memenuhi kebutuhan irigasi lahan kering seluas 59,08 hektare, terutama jika didukung oleh sistem pemompaan, jaringan pipa, dan reservoir sebagai penyeimbang fluktuasi debit, khususnya pada musim kemarau.
References
Asdak, Chay. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Basri. (1987). Irigasi dan Bangunan Air. Jakarta: Departemen Pekerjaan Umum.
Indarto, Nugroho, S., & Putra, E. (2014). Analisis Kekeringan Meteorologis Menggunakan Indeks SPI (Standardized Precipitation Index). Jurnal Teknik Pengairan, 5(2), 120–130.
Sardono, Soetopo W & Darmawan V, 2018. Simulasi Pola Operasi Tampungan Embung Tiu Pasai Sebagai Suplai Air Baku Dan Irigasi Menggunakan Metode Algoritma Genetik. Malang : Universitas Brawijaya
Soedibyo, 2003. Teknik Bendungan, Jakarta: Pradnya Paramita
Soemarto, CD. 1986. Hidrologi Teknik Edisi I. Surabaya: Penerbit Usaha Nasional.
Soetopo, W. 2010. Operasi Waduk Tunggal. Malang: Citra Malang.
Soetopo, W. 2012. Model-model Simulasi Stokastik untuk Sistem Sumberdaya Air. Malang: Asrori.
Soewarno. 1991. Hidrologi. Bandung: Penerbit Nova.
Soewarno. (1995). Hidrologi: Aplikasi Metode Statistik untuk Analisa Data Jilid 2. Bandung: Penerbit Nova.
