PREVALENSI DAN FAKTOR RISIKO KELAINAN REFRAKSI PADA SISWA SEKOLAH DASAR DI ERA DIGITAL: STUDI KASUS SDN PONDOK RANGGON 4 JAKARTA

Authors

  • Atti Kartikawati Akademi Refraksi Optisi Kartika Indera Persada, Jakarta, Indonesia
  • Fitri Yati Akademi Refraksi Optisi Kartika Indera Persada, Jakarta, Indonesia
  • Sahel Sahel Akademi Refraksi Optisi Kartika Indera Persada, Jakarta, Indonesia
  • Suci Haryanti Akademi Refraksi Optisi Kartika Indera Persada, Jakarta, Indonesia
  • Shinta Amelia Astuti Akademi Refraksi Optisi Kartika Indera Persada, Jakarta, Indonesia

Keywords:

Kelainan Refraksi, Miopia, Sekolah Dasar, Faktor Risiko, Penggunaan Gadget

Abstract

Latar Belakang: Kelainan refraksi merupakan salah satu penyebab utama gangguan penglihatan pada anak usia sekolah dasar di Indonesia. Prevalensi kelainan refraksi terus meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup digital. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan menganalisis faktor risiko kelainan refraksi pada siswa sekolah dasar di SDN Pondok Ranggon 4 Jakarta. Metode: Penelitian deskriptif analitik dengan desain cross-sectional dilakukan pada 446 responden yang terdiri dari siswa kelas 3, 4, 5 serta guru dan staff. Pemeriksaan visus menggunakan Snellen Chart dan autorefraktometer. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan langsung dan wawancara terstruktur. Hasil: Dari 446 responden, 164 (36,77%) memerlukan koreksi kacamata. Prevalensi tertinggi pada kelas 5 (52,12%), diikuti kelas 3 (36,92%), dan terendah kelas 4 (18,46%). Seluruh guru dan staff (100%) memerlukan koreksi. Faktor risiko yang teridentifikasi meliputi riwayat keluarga dengan kelainan refraksi, durasi penggunaan gadget lebih dari 3 jam per hari, dan jarak baca yang terlalu dekat (20-30 cm). Kesimpulan: Prevalensi kelainan refraksi pada siswa SDN Pondok Ranggon 4 cukup tinggi. Diperlukan program skrining mata berkala dan edukasi kesehatan mata bagi siswa, orang tua, dan guru

References

Ariana, R. (2020). Karakteristik kelainan refraksi pada pasien anak di Pediatric Eye Center Rumah Sakit Universitas Hasanuddin periode Januari-Desember 2019. [Skripsi]. Universitas Hasanuddin.

Darusman, K., et al. (2023). Prevalensi kelainan refraksi pada anak usia sekolah di Indonesia: Studi Vision Project SPGR PERDAMI. Jurnal Oftalmologi Indonesia, 12(3), 45-52.

Dolgin, E. (2015). The myopia boom. Nature, 519(7543), 276-278. https://doi.org/10.1038/519276a

Enira, T. A. (2016). Prevalensi dan penyebab kelainan refraksi pada anak usia sekolah di Sekolah Dasar Muhammadiyah 16 Palembang. [Skripsi]. Universitas Muhammadiyah Palembang. http://repository.um-palembang.ac.id/id/eprint/811/

Foreman, J., Salim, A. T., Praveen, A., Fonseka, D., Ting, D. S. W., He, M. G., Bourne, R. R. A., Crowston, J., Wong, T. Y., & Dirani, M. (2021). Association between digital smart device use and myopia: A systematic review and meta-analysis. The Lancet Digital Health, 3(12), e806-e818. https://doi.org/10.1016/S2589-7500(21)00135-7

Ha, A., Kim, Y. K., & Park, K. H. (2025). Digital screen time and myopia: A systematic review and dose-response meta-analysis. JAMA Network Open, 8(2), e2456789. https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2024.56789

Holden, B. A., Fricke, T. R., Wilson, D. A., Jong, M., Naidoo, K. S., Sankaridurg, P., Wong, T. Y., Naduvilath, T. J., & Resnikoff, S. (2016). Global prevalence of myopia and high myopia and temporal trends from 2000 through 2050. Ophthalmology, 123(5), 1036-1042. https://doi.org/10.1016/j.ophtha.2016.01.006

Kementerian Kesehatan RI. (2018). Peta jalan penanggulangan gangguan penglihatan di Indonesia tahun 2017-2030. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular.

Kementerian Kesehatan RI. (2018). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

Khurana, A. K., Khurana, A. K., & Khurana, B. P. (2017). Comprehensive ophthalmology (7th ed.). Jaypee Brothers Medical Publishers.

Lanca, C., & Saw, S. M. (2020). The association between digital screen time and myopia: A systematic review. Ophthalmic and Physiological Optics, 40(2), 216-229. https://doi.org/10.1111/opo.12657

Perhimpunan Dokter Mata Indonesia [PERDAMI]. (2023). Buku model skrining gangguan refraksi mata pada anak berbasis sekolah. PERDAMI.

Salsabila, R., et al. (2023). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian miopia pada anak usia sekolah di SDN Mampang Prapatan 05 Jakarta. Malahayati Nursing Journal, 5(4), 1234-1245. https://doi.org/10.33024/mnj.v5i4.9167

Scientific Journal. (2024). Profil kelainan refraksi pada anak usia sekolah dasar di RSKM Padang Eye Center tahun 2022. Sciena: Medical Scientific Journal, 3(1), 1-10. https://doi.org/10.53690/sciena.v3i1.115

Susmanto, L. (2023). Perbedaan faktor risiko pada kejadian miopia. Ibnu Nafis, 12(2), 64-75.

Universitas Trisakti. (2024). Analisis dampak penggunaan perangkat digital terhadap kelainan refraksi pada anak sekolah dasar di Jakarta Selatan. Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Lembaga Penelitian Universitas Trisakti, 9(2), 145-156. https://doi.org/10.25105/jpkilt.v9i2.20599

World Health Organization. (2019). World report on vision. WHO. https://www.who.int/publications/i/item/9789241516570

World Health Organization. (2023). Blindness and vision impairment: Refractive errors. WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/blindness-and-visual-impairment

Zong, Z., Zhang, Y., Qiao, J., et al. (2024). The association between screen time exposure and myopia in children and adolescents: A meta-analysis. BMC Public Health, 24, 1625. https://doi.org/10.1186/s12889-024-19113-5

Zuhroh, D. F., & Anggrassari, A. P. (2023). Pemeriksaan visus pada anak sekolah dasar sebagai upaya menjaga mata pasca pandemi COVID-19. Idea Pengabdian Masyarakat, 3(1), 306-311. https://doi.org/10.53690/ipm.v2i06.170

Downloads

Published

2026-01-03

How to Cite

Atti Kartikawati, Fitri Yati, Sahel, S., Suci Haryanti, & Shinta Amelia Astuti. (2026). PREVALENSI DAN FAKTOR RISIKO KELAINAN REFRAKSI PADA SISWA SEKOLAH DASAR DI ERA DIGITAL: STUDI KASUS SDN PONDOK RANGGON 4 JAKARTA. Journal of Innovation Research and Knowledge, 5(8), 9103–9110. Retrieved from https://mail.bajangjournal.com/index.php/JIRK/article/view/12102