NARASI KRISIS ENERGI DALAM FRAMING VIDEO TIKTOK: Studi Kasus Pemberitaan Pertamax Oplosan
Keywords:
Pertamax Oplosan, Tiktok, Framing, Opini Publik, Media Sosial.Abstract
Penelitian ini menganalisis bagaimana isu Pertamax oplosan dibingkai dalam konten TikTok pada periode Februari–Maret 2025. Sebagai platform berbasis video pendek, TikTok memiliki peran signifikan dalam membentuk opini publik melalui penyebaran konten yang cepat dan visual yang persuasif. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan observasi konten, wawancara informan, serta studi dokumentasi. Analisis framing Robert Entman digunakan untuk mengidentifikasi empat elemen utama, yaitu pendefinisian masalah, penyebab, penilaian moral, dan rekomendasi solusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TikTok membingkai isu ini sebagai masalah serius terkait kualitas dan keamanan BBM. Publik menilai bahwa penyebab munculnya dugaan oplosan berkaitan dengan kelalaian SPBU serta kurangnya pengawasan pemerintah dan Pertamina. Narasi TikTok juga memperlihatkan penilaian moral berupa kecaman terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab. Sementara itu, rekomendasi solusi yang muncul mencakup peningkatan transparansi, pengawasan distribusi BBM, serta edukasi literasi digital. Penelitian ini menegaskan peran TikTok sebagai ruang pembentukan persepsi publik dalam isu strategis
References
Allan, S. (2013). Citizen Journalism: Global Perspectives. New York: Peter Lang.
Aulia, R., Prasetyo, A., & Mahendra, D. (2025). Public trust and crisis communication in Indonesia’s energy sector. Jurnal Komunikasi Publik, 9(1), 45–60.
Becker, G. S. (2020). Human Capital: A Theoretical and Empirical Analysis. Chicago: University of Chicago Press.
Cervi, L., Tejedor, S., & Marín, L. (2023). Social media as a digital public sphere: Participation and political discourse. Communication & Society, 36(2), 1–17.
DataReportal. (2024). Digital 2024: Indonesia. Singapore: We Are Social & Meltwater.
Effendy, O. U. (2023). Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Entman, R. M. (1993). Framing: Toward clarification of a fractured paradigm. Journal of Communication, 43(4), 51–58. https://doi.org/10.1111/j.1460-2466.1993.tb01304.x
Gillmor, D. (2017). We the Media: Grassroots Journalism by the People, for the People. Sebastopol: O’Reilly Media.
Hasanah, U., & Zuhriah, R. (2024). Visual persuasion and emotional framing on TikTok. Jurnal Ilmu Komunikasi, 19(2), 133–147.
Hayatulnupus, M. (2025). Algorithmic media and opinion formation in Indonesia. Asian Journal of Digital Communication, 4(1), 21–36.
Hermida, A. (2010). Twittering the news: The emergence of ambient journalism. Journalism Practice, 4(3), 297–308. https://doi.org/10.1080/17512781003640703
LPEM UI. (2023). Kajian Tata Kelola Energi dan Kepercayaan Publik. Jakarta: LPEM Universitas Indonesia.
Mawardi, R. (2025). Truth effect and repetition in social media narratives. Jurnal Media dan Masyarakat, 7(1), 55–69.
Medina, S., Shah, D. V., & Gil de Zúñiga, H. (2020). Social media and opinion formation. New Media & Society, 22(12), 2243–2261. https://doi.org/10.1177/1461444820924632
Nielsen, R. K., & Graves, L. (2017). “News you don’t believe”: Audience perspectives on fake news. Reuters Institute Report. Oxford: University of Oxford.
Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2018). Organizational Behavior. 18th ed. Harlow: Pearson Education.
Statista. (2023). Number of TikTok users worldwide. Hamburg: Statista GmbH.
Sugiyono. (2022). Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sujarweni, V. W. (2023). Metodologi Penelitian Sosial. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Wulandari, N., Putra, A. P., & Sari, D. (2025). Viral narratives and algorithmic amplification on TikTok. Jurnal Studi Media Digital, 3(1), 1–15.
World Health Organization (WHO). (2019). Risk Communication and Community Engagement. Geneva: WHO Press.
